A. Pengertian Konseling Kelompok
Layanan
konseling kelompok adalah layanan yang memungkinan peserta didik (masing-masing anggota kelompok)
memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi
melalui dinamika kelompok, dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh
kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi melalui
dinamika kelompok. Layanan Konseling Kelompok berfungsi untuk
pengentasan dan advokasi.
Layanan
konseling kelompok merupakan salah satu layanan bimbingan dan konseling di
sekolah. Layanan konseling kelompok secara terpadu dalam pelaksanaan layanan
bimbingan dan konseling disekolah. Sebagai kegiatan, layanan konseling
kelompok merupakan upaya bantuan untuk dapat memecahkan masalah siswa dengan
memanfaatkan dinamika kelompok. Seperti halnya layanan bimbingan dan konseling.
Dalam konseling
kelompok membahas masalah pribadi yang dialami oleh masing-masing anggota
kelompok. Baik topik umum maupun masalah pribadi itu, dibahas dalam suasana
dinamika kelompok yang intens dan konstruktif.
(Prayitno 2004: hal 1)
B. Tujuan Umum Layanan Konseling Kelompok
Tujuan Umum layanan konseling
kelompok adalah berkembangnya kemampuan sosialisasi siswa, khususnya kemampuan
komunkasi peserta layanan, kepercayaan diri, kepribadian, dan mampu memecahkan masalah yang
berlandaskan nilai ilmu dan agama.
Dalam kaitan ini, sering menjadi kenyataan bahwa kemampuan bersosialisasi atau
berkomunikasi seseorang sering terganggu oleh perasaan, pikiran, persepsi,
wawasan dan sikap yang tidak objektif, sempit dan terkungkung serta tidak
efektif. Melalui layanan konseling kelompok hal-hal yang mengganggu atau
menghimpit perasaan dapat diungkapkan, dilongggarkan dan diringankan.
(Prayitno 2004: hal 2)
C. Tujuan Khusus Layanan Konseling Kelompok
Konseling kelompok terfokus pada
pembahasan masalah pribadi individu peserta kegiatan layanan. Melalui layanan
kelompok yang intensif dalam upaya pemecahan masalah tersebut para peserta
memperoleh tujuan sekaligus:
1.
Terkembangkannya
perasaan, pikiran, persepsi, wawasan dan sikap terarah kepada tingkah laku
khususnya dalam bersosialisasi atau komunikasi, dan
2.
Terpecahkannya
masalah individu yang bersangkutan dan diperolehnya imbasan pemecahan masalah
tersebut bagi individu-individu lain dari peserta layanan konseling kelompok.
(Prayitno 2004: hal 3)
D. Komponen dalam Layanan Konseling Kelompok
1. Pemimpin Kelompok (PK)
Pemimpin kelompok (PK) adalah konselor yang terlatih dan
berwenang menyelenggarakan praktik konseling profesional.
Kemampuan yang harus dimiliki seorang konselor dalam
melaksanakan layanan konseling kelompok adalah:
·
Menciptakan
suasana kelompok sehingga terciptanya dinamika kelompok
·
Berwawasan luas (ilmiah
dan moral).
·
Mampu membina
hubungan antarpersonal yang hangat, damai,
berbagi, empatik, altruistik, jauh dari kesukaaan
untuk membuat kelompok.
Sedangkan peranan PK dalam hal ini adalah:
·
Membentuk
kelompok
·
Melakukan
penstrukturan
·
Mengembangkan
dinamika kelompk
·
Mengevaluasi
proses dan hasil belajar
2. Anggota Kelompok
Tidak semua orang atau individu
dapat dijadikan anggota konseling kelompok.Untuk terselenggaranya konseling
kelompok seorang Konselor perlu membentuk kumpulan individu menjadi sebuah
kelompok yang memiliki persyaratan. (Prayitno 2004: hal 8)
Jumlah kelompok yaitu antara 8-10 orang dengan memperhatikan homogenitas dan
heterogenitas kemampuan anggota kelompok. Kemampuan dengan perbandingan
2:1 antara yang pintar
atau kurang pintar. Dari segi jenis pria atau wanita
yaitu 1:1.
Hal
yang perlu diperhatikan dalam pembentukan kelompok:
·
Homogenitas dan Heterogenitas dalam Konseling
Kelompok
Dalam
hal ini anggota kelompok yang homogen kurang efektif dalam konseling kelompok.
Sebaliknya, anggota kelompok yang heterogen akan menjadi sumber yang lebih kaya
untuk pencapaian tujuan layanan. Pembahasan dapat diitnjau dari berbagai sesi,
tidak monoton, dan terbuka. Heterogenitas dapat mendobrak dan memecahkan
kebekuan yang terjadi akibat homogenitas anggota kelompok. Heterogenitas yang
dimaksudkan tentu bukan asal beda. (Prayitno 2004: hal 11)
·
Jenis anggota kelompok
Kelompok
tertutup yaitu anggota tetap dan tidak berubah jumlah anggotanya. Kelompok
terbuka yaitu anggota bergantian dan tidak menetapkan. Pengertian adalah sejumlah orang
dengan memanfaatkan dinamika kelompok. Konseling
kelompok agar dapat mengentaskan masalah
pribadi anggota kelompoknya.
Peran Anggota Kelompok
Masing-masing anggota kelompok
beraktifitas langsung dan mandiri dlam bentuk:
1. Aktif,
mandiri melaui aktivitas langsung melalui sikap 3M (mendengar dengan aktif,
memahami dengan positif dan merespon dengan tepat dan positif), sikap
seperti seorang konselor.
2. Berpikir dan berbagi pendapat, ide dan
pengalaman
3. Merasa, berempati dan bersikap
4. Menganalisa, mengkritisi dan
berargumentasi
5.
Berpartisipasi dalam kegiatan bersama
Aktifitas mandiri masing-masing anggota
kelompok diorientasikan pada kehidupan bersama dalam kelompok. Kebersamaan ini
diwujudkan dalam:
1. Aktif membina keakraban, membina
keikatan emosional
2. Mematuhi etika kelompok
3. Menjaga kerahasiaan,
perasaan dan membantu serta
4. Membina kelompok untuk
menyukseskan kegiatan kelompok.
E. Asas
Dalam konseling
kelompok, asas yang dipakai :
1. Kerahasiaan
Segala sesuatu yang dibahas dan muncul dalam kegiatan kelompok hendaknya
menjadi rahasia kelompok yang hanya boleh diketahui oleh anggota kelompok dan
tidak disebarluaskan ke luar kelompok. Seluruh anggota kelompok hendaknya
menyadari benar hal ini dan bertekad untuk melaksanakannya. Aplikasi asas
kerahasiaan lebih dirasakan pentingnya dalam konseling kelompok mengingat hal
yang dibahas dalam layanan ini adalah masalah pribadi anggota kelompok.
2. Kesukarelaan
Kesukarelaan anggota kelompok
dimulai sejak awal rencana pembentukan kelompok oleh Konselor (PK).
Kesukarelaan terus menerus dibina melalui upaya Konselor mengembangkan
syarat-syarat kelompok yang efektif dan penstrukturan tentang layanan konseling
kelompok. Dengan asas kesukarelaan anggota kelompok akan dapat mewujudkan peran
aktif diri mereka masing-masing untuk mencapai tujuan layanan.
à Asas-asas lain :
1. Keterbukaan
2. Kegiatan
Dinamika kelompok dalam konseling
kelompok semakin intensif dan efektif apabila semua anggota kelompok secara
penuh menerapkan asas kegiatan dan keterbukaan. Mereka secara aktif dan terbuka
menampilkan diri tanpa rasa takut, malu ataupun ragu. Dinamika kelompok semakin
tinggi, berisi dan bervariasi.
3.
Kekinian
Asas kekinian memberikan isi aktual
dalam pembahasan yang dilakukan, anggota kelompok diminta mengemukakan hal-hal
yang terjadi dan berlaku sekarang ini. Hal-hal
atau pengalaman yang telah lalu dianalisis dan disangkut-pautkan untuk
kepentingan pembahasan hal-hal yang terjadi dan berlaku sekarang. Hal-hal yang
akan datang direncanakan sesuai dengan
kondisi yang ada sekarang.
4. Kenormatifan
Asas kenormatifan dipraktikkan
berkenaan dengan cara-cara berkomunikasi dan bertatakrama dalam kegiatan
kelompok, dan dalam mengemas isi bahasan.
5.
Keahlian
Asas
keahlian diperlihatkan oleh Konselor dalam mengelola kegiatan kelompok dalam
mengambangkan kagiatan kelompok dalam mangembangkan proses dan isi pembahasan
secara keseluruhan.
(Prayino 2004: hal 14-15)
F. Tahap Penyelenggaraan
Layanan konseling kelompok diselenggarakan
melalui empat tahap kegiatan, yaitu:
a. Tahap
Pembentukan
Tahap pembentukan, yaitu tahapan
untuk menbentuk kerumunan sejumlah individu menjadi satu kelompok yang siap
mengembangkan dinamika kelompok dalam mencapai tujuan bersama.
b. Tahap
Peralihan
Tahap
peralihan, yaitu tahapan untuk mengalihkan kegiatan awal kelompok ke kegiatan
berikutnya yang lebih terarah pada pencapaian tujuan kelompok. Juga untuk meninjau pemahaman anggota
kelompok terhadap apa yang akan dilaksanakannya seperti masih ragu-ragu
untuk mengikuti layanan konseling kelompok. Lihat suasana dan situasi anggota
kelompok.
c. Tahap
Kegiatan
Tahap kegiatan, yaitu tahapan “kegiatan inti” untuk
mengentaskan masalah pribadi anggota kelompok.
d. Tahap
Pengakhiran
Tahap
pengakhiran, yaitu tahapan akhir kegiatan untuk melihat kembali apa yang sudah
dilakukan, mengecek apa yang telah dicapai anggota kelompok (evaluasi). Penyampaian
kesan dan pesan serta menanyakan kapan akan dilaksanakan layanan
Konseling kelompok kembali atau merencanakan kegiatan selanjutnya.
(Prayitno 2004: hal 18-19)
G.
Isi Layanan
Dalam konseling kelompok adalah membahas masalah
individu. Setiap anggota menyampaikan permasalahannya, namun tidak harus semua
anggota kelompok. Jika telah terkemukakan masalah, maka perlu dibahas dan
dimusyawarahkan masalah siapa yang terlebih dahulu akan dibahas.
H.
Teknik
àUMUM:
1. Bagaimana
menciptakan dinamika kelompok melalui komunikasi yang terarah, dinamis dan
menyeluruh pada semua anggota kelompok (komunikasi multiarah) yang
efektif, terkendali.
2. Pemberian rangsangan agar anggota
berinisiatif mengemukakan pendapat untuk berdiskusi.
3. Dorongan
minimal agar anggota kelompok terus beraktivitas
4. Penjelasan lebih
mendalam tentang pendapat yang dikemukakan.
5. Pelatihan terhadap
tingkah laku baru bagi anggota kelompok.
àKegiatan selingan:
Beberapa kegiatan selingan
yang bisa dilakukan diantaranya, permainan-permainan yang fungsinya sebagai selingan, pembinaan dan mengintrospeksi diri.
sumber:
Prayitno.(2004).
Layanan Bimbingan Kelompok dan Konseling
Kelompok. Padang: Universitas Negeri Padang.